Perdagangan internasional yang tidak dapat dihindari dari kegiatan sehari-hari, saat ini tidak hanya perlu bekerja secara cepat tapi juga perlu beroperasi secara akuntabel dan transparan. Dalam konteks kepabeanan masa kini, pengawasan oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pemeriksaan fisik saat barang-barang masuk. Oleh karena meningkatnya kegiatan dan kompleksitas perdagangan internasional, sistem pengawasan saat ini semakin mengedepankan pendekatan berbasis manajemen risiko dan kepatuhan perusahaan.
Pendekatan tersebut tercermin dalam berbagai fasilitas kepabeanan yang bertujuan untuk mendukung kelancaran arus barang, salah satunya adalah dengan adanya fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB). Adanya fasilitas ini memberikan perusahaan ruang operasional yang lebih fleksibel dalam mengelola arus barang, dengan tetap berada dalam kerangka pengawasan oleh DJBC. Secara praktik, pendekatan pengawasan ini disebut dengan Trust-Based Supervision.
Pendekatan tersebut tercermin dalam berbagai fasilitas kepabeanan yang bertujuan untuk mendukung kelancaran arus barang, salah satunya adalah dengan adanya fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB). Adanya fasilitas ini memberikan perusahaan ruang operasional yang lebih fleksibel dalam mengelola arus barang, dengan tetap berada dalam kerangka pengawasan oleh DJBC. Secara praktik, pendekatan pengawasan ini disebut dengan Trust-Based Supervision.
Namun, kepercayaan dalam konsep Trust-Based Supervision bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri ataupun diberikan secara cuma-cuma, melainkan kepercayaan tersebut wajib didukung oleh kesiapan perusahaan dalam membangun sistem operasional yang transparan, terdokumentasi, dan akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). Sebagai bagian dari ekosistem logistik yang beroperasi dalam bentuk PLB, perusahaan kami memahami bahwa pengawasan berbasis kepercayaan ini dapat berjalan efektif apabila didukung oleh sistem internal yang kuat. Dalam praktiknya, kesiapan perusahaan ini tercermin melalui adanya IT inventory, pelaksanaan stock opname secara berkala untuk memastikan data sistem sama dengan kondisi secara fisik yang berada di gudang PLB, pengelolaan dokumen kepabeanan yang terdokumentasi dengan baik, serta dibutuhkan pula kesiapan perusahaan untuk berkoordinasi secara aktif dengan otoritas kepabeanan seperti DJBC apabila diperlukan.
Berikut sedikit penjelasan mengenai sistem internal yang dapat meningkatkan penerapan Trust-Based Supervision:
- Sistem IT Inventory â merupakan salah satu fondasi utama agar pengawasan berbasis kepercayaan ini berjalan optimal. Hal ini karena IT Inventory memungkinkan pencatatan keluar-masuk barang secara sistematis serta menyediakan audit trail (jejak data) yang dapat ditelusuri secara real time. Adanya sistem ini membantu memastikan bahwa setiap pergerakan barang tercatat secara akurat dan terintegrasi..
- Stock opname â Selain pengelolaan berbasis sistem IT, perusahaan kami juga secara berkala melakukan stock opname sebagai bagian dari mekanisme internal control. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian antara data yang tercatat dalam IT Inventory dengan kondisi fisik barang yang berada di gudang. Sehingga, potensi ketidaksesuaian dapat diidentifikasi dan ditindaklanjuti secara cepat.
- Komitmen Kepatuhan (Compliance) â selain 2 hal di atas, komitmen terhadap kepatuhan regulasi juga tercermin melalui kesiapan perusahaan untuk berkoordinasi secara terbuka dengan DJBC baik dalam proses audit maupun evaluasi. Perusahaan kami berupaya menjadikan masukan dari DJBC sebagai bagian dari proses perbaikan terhadap sistem operasional yang kami jalankan.
Dari ketiga poin di atas, kami secara konsisten mengembangkan mekanisme-mekanisme operasional untuk memastikan transparansi dan kepatuhan, serta komitmen untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan internal berdasarkan hasil audit maupun masukan dari otoritas kepabeanan dan pelanggan. Hal ini dikarenakan seluruhnya berhubungan dengan pelanggan. Perusahaan yang sudah memenuhi kesiapan 3 poin di atas, juga tentunya memastikan kegiatan operasional dapat berjalan responsif sesuai kebutuhan pelanggan. Dengan dukungan tim operasional yang siap melayani 24 jam, kami PT Aberu Cahaya Semesta, berupaya menjaga kelancaran proses operasional sekaligus memastikan bahwa setiap aktivitas tetap berada dalam koridor kepatuhan terhadap regulasi kepabeanan yang berlaku.
Melalui pendekatan tersebut, kami berupaya setiap harinya untuk memastikan bahwa setiap proses operasional tidak hanya mendukung kelancaran kegiatan logistik pelanggan, tetapi juga selaras dengan prinsip kepatuhan dan tata kelola yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pengawasan berbasis kepercayaan di era kepabeanan masa kini.
Kami percaya, penerapan pengawasan berbasis kepercayaan ini tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada kesiapan operasional perusahaan dalam membangun sistem internal control yang memadai. Perusahaan PLB dituntut untuk memastikan bahwa setiap pergerakan barang terdokumentasi, dapat ditelusuri dengan jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan apabila dilakukan pemeriksaan sewaktu-waktu oleh DJBC.
Melalui kombinasi antara sistem IT, internal control, serta komitmen terhadap kepatuhan, perusahaan kami, PT Aberu Cahaya Semesta, berupaya memastikan bahwa pengawasan berbasis kepercayaan ini dapat dijalankan secara bertanggung jawab dalam praktik operasional sehari-hari.
Kesimpulannya, pengawasan berbasis kepercayaan ini bukan bermaksud untuk mengurangi pengawasan, melainkan mengubah cara pengawasan dilakukan agar arus keluar-masuk barang dapat dilakukan secara cepat. Pengawasan tidak lagi bertumpu pada kontrol langsung di lapangan, melainkan pada sistem, transparansi, dan tata kelola yang baik dari perusahaan-perusahaan PLB. Hal-hal tersebut itulah yang menjadi fondasi dalam membangun hubungan kemitraan yang sehat dan harmonis antara perusahaan PLB, otoritas kepabeanan atau regulator, dan pelanggan sehingga pengawasan pun dapat berjalan optimal.